Aplikasi Sistem Informasi dan Pembelajaran Berbasis ICT di SMP Bina Insani Bogor

sa4000061

By : Fanda – Sekolah Bina Insani Bogor


PENDAHULUAN

Invention adalah penemuan sesuatu  yang benar-benar baru artinya hasil karya manusia. Discovery adalah  penemuan sesuatu (benda yang sebenarnya telah ada sebelumnya). Dengan demikian, inovasi dapat diartikan usaha menemukan benda yang baru dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) invention dan discovery. Dalam  kaitan ini suatu inovasi harus berlangsung di sekolah guna memperoleh hasil yang terbaik dalam mendidik siswa karena ujung tombak keberhasilan pendidikan di sekolah adalah guru. Oleh karena itu guru harus mampu menjadi seorang yang inovatif guna menemukan strategi atau metode yang efektif untuk mendidik. Inovasi ada yang dilakukan untuk menyeluruh dalam satu sekolah atau ada juga yang terjadi di dalam kelas, yaitu inovasi yang dilakukan oleh guru yang berada dalam tatanan pembelajaran.

Begitu pula inovasi yang terjadi di SMP Bina Insani Bogor adalah penerapan Sistem Informasi Terpadu dan Model Pembelajaran yang berbasis ICT (Information Computer Technology). Inovasi yang dilakukan menyeluruh di sekolah adalah penerapan Sistem Informasi Terpadu sedangkan inovasi di kelas adalah penerapan model pembelajaran berbasis ICT yang dilakukan oleh sebagian guru-guru pada sekolah tersebut.

Sistem Informasi merupakan salah satu bentuk inovasi yang dipilih karena keberadaan Sistem Informasi sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan yang membutuhkan keberadaan informasi guna meningkatkan kualitas sekolah. Hal ini ditekankan juga oleh Bork (1991:34) dalam Betz dan Wilmore (2000) memprediksikan di tahun 2010 peran komputer menjadi sangat dominan dan penting di beberapa bagian dunia dalam sistem pendidikan.

Beberapa hal yang melatarbelakangi keberadaan sistem informasi dalam dunia pendidikan termasuk di sekolah adalah sebagai berikut. Pertama, cepatnya pengaruh globalisasi dalam era infomasi. Kemajuan teknologi komnikasi dan informasi telah membuat seluruh dunia bagaikan “desa global tanpa batas”. Dengan berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi sangat mempengaruhi segala aspek termasuk juga pendidikan. Tingkat kompetitor yang semakin meningkat, membutuhkan keberadaan informasi yang serba cepat, benar, akurat dan lengkap. Informasi juga digunakan untuk menarik suatu kesimpulan, mengatur strategi agar dapat memenangkan persaingan. Hal ini diperkuat oleh Gates (1999:3) dengan melihat dalam tingkat persaingan yang ketat di era global kemampuan untuk mengumpulkan, mengatur dan memanfaatkan informasi sangat menentukan kita menang “win” atau kalah “lose” dalam persaingan.

Kedua, Teknologi Informasi (TI) juga merupakan solusi dan katalis perubahan reformasi manajemen pendidikan. Tuban et al (2002:4) mengisyaratkan bahwa TI merupakan suatu katalis dari perubahan dasar dalam struktur, operasi dan manajemen organisasi. Selain itu untuk menjawab “mengapa begitu pentingnya sistem informasi dalam dunia pendidikan khususnya administrasi sekolah ?”. Salah satu jawabannya mengangkat pernyataan dalam Castetter (1996:417) bahwa satu diantara banyak alasan mengapa sistem sekolah secara terus menerus membutuhkan TI adalah yang paling sering ilmu pengetahuan, teknik-teknik, alat-alat dan proses yang membantu untuk pengembangan individual, kelompok dan pengetahuan sistem untuk melaksanakan pekerjaan dengan lebih efisien dan efektif.

Ketiga, kekuatan hukum undang-undang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) UU RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dengan menimbang pada butir c yang menyatakan bahwa :

Sistem Pendidikan Nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah dan berkesinambungan.

Selain itu menurut keputusan Menteri Nasional yang mengacu pada KEPMENDIKNAS no 044/U/2002 dalam rincian tugas dewan/komite sekolah mengenai bidang pengendalian kualitas pelayanan pendidikan dan bidang jaringan kerja sama dan Sistem Informasi. Hal ini mengacu pada Propenas 2001-2005 menyatakan bahwa pembangunan nasional adalah usaha peningkatan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan berlandaskan kemampuan nasional, dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan tantangan perkembangan global. Pelaksanaannya mengacu pada kepribadian bangsa dan nilai luhur universal ditujukan mewujudkan kehidupan bangsa yang berdaulat, berkeadilan, sejahtera, maju, mandiri dan kukuh kekuatan moral dan etikanya. Dengan demikian, membangun kesejahteraan rakyat dan ketahanan budaya merupakan agenda pembangunan yang penting dan strategis. Hal tersebut merupakan indikator bawa keberadaan Sistem Informasi sangat dibutuhkan di dunia pendidikan dan berperan besar dalam andil peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Selain itu pentingnya Teknologi Informasi (TI) dalam dunia pendidikan adalah membantu dalam pengambilan keputusan yang benar, akurat dan cepat untuk meningkatkan kualitas pendidikan serta meningkatkan mutu pembelajaran. Keberadaan TI sebagai fasilitator semakin trend dan berkembang menjadi suatu kebutuhan umum dalam setiap aktivitas yang ada. Hal ini ditekankan juga oleh Turban et al (1002:4) ‘IT has become the major facilitator of business activities in the world today’ . Dalam hal ini Turban melihat bahwa TI telah menjadi fasilitator yang dominan dalam berbagai aktivitas bisnis di dunia. Posisi informasi ini dijadikan sebagai asset yang menguntungkan. Semakin banyaknya informasi, maka kita semakin bergantung pada pekerjaan yang berkenaan dengan informasi. Kebergantungan ini disebabkan mereka mahir mengorganisasikan, mengklasifikasikan, memperoleh dan menyampaikan informasi. Saat ini perbaikan kualitas menjadi paradigma baru pendidikan ke depan. Kebutuhan terhadap paradigma baru pendidikan ke depan didasarkan atas perubahan yang besar-besaran di pendidikan khususnya kebutuhan akan informasi.

Dari paparan di atas banyak hal yang melatarbelakangi peranan Sistem Informasi dalam meningkatkan kualitas dan mutu suatu lembaga pendidikan atau sekolah. Selain bentuk inovasi secara menyeluruh yang dilakukan oleh SMP Bina Insani, terdapat pula inovasi dalam metode pembelajaran di kelas yang dilakukan oleh guru di kelas. Inovasi yang dilakukan adalah metode pembelajaran berbasis ICT. Yang melatarbelakangi inovasi ini dilakukan adalah untuk memberikan metode pembelajaran lebih optimal sehingga guru diharapkan mampu menerapkan model-model pembelajaran yang variatif, efektif dan selektif sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang diajarkan selain itu pula upaya meningkatkan prestasi siswa dan kualitas sekolah dengan memberikan model-model pembelajaran lebih inovatif yang mendorong siswa dapat belajar secara optimal baik di dalam belajar mandiri maupun di dalam pembelajaran di kelas. Karena inovasi-inovasi model pembelajaran sangat diperlukan dan sangat mendesak terutama dalam menghasilkan model pembelajaran baru yang dapat memberikan hasil belajar yang baik.

  1. Proses Aplikasi Sistem Informasi dalam Inovasi di Sekolah

Penerapan inovasi di SMP Bina Insani menggunakan model bottom-up Innovation karena inovasi ini dilakukan berdasarkan kebutuhan di lapangan dan juga keinginan dari guru dan pihak sekolah untuk memberikan layanan akademik yang baik kepada siswa agar prestasi akademik siswa dapat meningkat dengan adanya inovasi atau perubahan tersebut.

Penerapan inovasi secara menyeluruh di SMP Bina Insani meliputi aplikasi Sistem Informasi di sekolah yang dinamakan Sistem Informasi Terpadu Bina Insani (SITBI) yang meliputi sistem administrasi akademik/kurikulum dan sistem administrasi umum (keuangan, dan kepegawaian). Sistem informasi yang digunakan berbasis jaringan yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan sistem pendidikan, terutama pelayanan kepada para “stake holders”, di antaranya orangtua dan siswa. Oleh karena itu dengan adanya sistem informasi ini maka para orangtua dapat mengontrol dan memantau perkembangan prestasi akademik putra putrinya di tempat tinggal mereka dan segera dapat melakukan tindakan untuk lebih meningkatkan prestasi putra putrinya.

Proses pembuatan Sistem Informasi ini yang pertama kali dilakukan adalah sosialisasi kepada guru-guru mengenai program SITBI tersebut. Pada proses sosialisasi ini dijelaskan mengenai apa itu Sistem Informasi Manajemen dalam hal ini SITBI, proses aplikasinya serta manfaat dari program tersebut. Sosialisasi mengenai inovasi ini perlu dilakukan karena guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Dalam pembaharuan pendidikan, keterlibatan guru mulai dari perencanaan inovasi pendidikan sampai dengan pelaksanaan dan evaluasinya memainkan peran yang sangat besar bagi keberhasilan suatu inovasi pendidikan. Tanpa melibatkan mereka, maka sangat mungkin mereka akan menolak inovasi yang diperkenalkan kepada mereka. Hal ini seperti diungkapkan Cece Wijaya (1991), karena mereka menganggap inovasi yang tidak melibatkan mereka adalah bukan miliknya yang harus dilaksanakan, tetapi sebaliknya mereka menganggap akan mengganggu ketenangan dan kelancaran tugas mereka. Oleh karena itu, dalam suatu inovasi   pendidikan, gurulah yang utama dan pertama terlibat karena guru  mempunyai peran yang luas sebagai pendidik, sebagai orang tua, sebagai teman, sebagai dokter, sebagai motivator dan lain sebagainya. (Wright  1987).

Setelah dari proses sosialisasi dan guru-guru menerima inovasi tersebut, kemudian dilanjutkan sosialisasi program SITBI ke siswa karena siswa sebagai obyek utama dalam pendidikan terutama dalam proses belajar mengajar, siswa memegang peran yang sangat dominan. Dalam proses belajar mengajar, siswa dapat menentukan keberhasilan belajar melalui penggunaan intelegensia, daya motorik, pengalaman, kemauan dan komitmen yang timbul dalam diri mereka tanpa ada paksaan. Hal ini bisa terjadi apabila siswa juga dilibatkan dalam proses inovasi pendidikan, walaupun hanya dengan mengenalkan kepada mereka tujuan dari pada perubahan itu mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan, sehingga apa yang mereka lakukan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dilaksanakan dengan konsekwen. Peran siswa dalam inovasi pendidikan tidak kalah pentingnya dengan peran unsur-unsur lainnya, karena siswa bisa sebagai penerima pelajaran, pemberi materi pelajaran pada sesama temannya, petunjuk, dan bahkan sebagai guru. Oleh karena itu, dalam memperkenalkan inovasi pendidikan sampai dengan penerapannya, siswa perlu diajak atau dilibatkan sehingga mereka tidak  saja menerima dan melaksanakan inovasi tersebut, tetapi juga mengurangi resistensi seperti diungkapkan Cece Wijaya (1991).

Selain sosialisasi ke guru dan siswa, orangtua dan masyarakat atau stake holder juga perlu diinformasikan mengenai program tersebut karena masyarakat secara langsung atau tidak langsung, sengaja maupun tidak, terlibat dalam pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya mengubah masyarakat menjadi lebih baik terutama masyarakat di mana peserta didik itu berasal. Tanpa melibatkan masyarakat sekitarnya dan stake holder, inovasi pendidikan tentu akan terganggu, bahkan bisa merusak apabila mereka tidak diberitahu atau dilibatkan. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan sebaliknya akan membantu inovator dan pelaksana inovasi dalam melaksanakan inovasi pendidikan.

Selanjutnya dibentuklah tim pengembang program SITBI ini yang terdiri dari guru-guru perwakilan dari setiap mata pelajaran dan kurikulum, tim pengembang ini dianggap sebagai satu kesatuan kurikulum sekolah karena kurikulum sekolah dianggap sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam proses belajar mengajar di sekolah, sehingga dalam pelaksanaan inovasi pendidikan, kurikulum memegang peranan yang sama dengan unsur-unsur lain dalam pendidikan. Tanpa adanya kurikulum dan tanpa mengikuti program-program yang ada di dalamya, maka inovasi pendidikan tidak akan berjalan sesuai dengan tujuan inovasi itu sendiri. Oleh karena itu, dalam pembaharuan pendidikan, perubahan itu hendaknya sesuai dengan perubahan kurikulum atau perubahan kurikulum diikuti dengan pembaharuan pendidikan dan tidak mustahil perubahan dari kedua-duanya akan berjalan searah.

Program SITBI ini dapat berjalan juga karena dukungan dari pihak Yayasan Bina Insani sebagai sumber dana dan juga yang menyediakan segala fasilitas demi terwujudnya program tersebut karena fasilitas termasuk sarana dan prasarana pendidikan, tidak bisa diabaikan dalam proses pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar. Dalam pembaharuan pendidikan, tentu saja fasilitas merupakan hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan. Tanpa adanya fasilitas, maka pelaksanaan inovasi pendidikan akan bisa dipastikan tidak akan berjalan dengan baik. Fasilitas, terutama fasilitas belajar mengajar merupakan hal yang esensial dalam mengadakan perubahan dan pembaharuan pendidikan.

Adapun Sistem Informasi Terpadu ini dilakukan dengan menginput data yang sama dapat disusun dalam berbagai cara untuk memenuhi informasi yang dibutuhkan dari berbagai pembuat keputusan pada level pimpinan atau pun pihak sekolah seperti guru, wali kelas, BP bahkan orangtua dan siswa. Kemudian dibuat pemodelan sistem informasi dengan modul-modul utama yang memiliki fungsi sebagai berikut :

1. Module Absen

Module Absen adalah module yang digunakan untuk melayani absensi Siswa, Guru, Staff Module absensi menggunakan teknologi Barcode.

Sistem mempunyai manfaat dan keuntungan sbb :

a. Absensi siswa, guru dan staf dilakukan secara otomatis (digital)

b. Sistem Absensi akan berhenti setelah waktu toleransi keterlambatan masuk sekolah yang ditentukan.

c. Hasil rekapitulasi absensi dapat dilihat secara cepat, tepat dan akurat).

d. Menghemat waktu bagi guru dalam mengolah absensi siswa.

e. Sistem Informasi Terpadu Sekolah secara otomatis dapat mengetahui siswa yang tidak masuk kelas, siswa yang masuknya terlambat sehingga akan mempermudah dalam pengawasan.

f. Hasil rekapitulasi absensi dapat dikelompokan berdasrkan waktu (hari, minggu, bulanan, semester dan tahunan) dan kelompok siswa (kelas, tahun ajaran, indek prestasi, dll)

2. Module Kesiswaan

Modul kesiswaan adalah sebuah module yang berfungsi untuk mengolah seluruh data siswa seperti :

a. Registrasi siswa baru berdasarkan Nomor Induk Siswa

b. Penyusunan daftar siswa per kelas / per jurusan

c. Rekapitulasi Jumlah Siswa (jumlah siswa aktif, jumlah siswa keluar, jumlah siswa masuk/baru)

d. Penyusunan data alumni secara otomatis

e. Pencarian data siswa secara cepat, tepat dan akurat (siswa dan siswi alumni)

3. Modul Kurikulum

Module guru adalah sebuah module yang berfungsi untuk mengolah data data siswa yang bermanfaat dan penting bagi guru. Module guru dibagi dalam 2 katagori, yaitu :

a. Modul Guru sebagai Wali Kelas

Module ini berfungsi untuk :

– Mengolah data absensi siswa

– Mengetahui persetase kehadiran siswa

– Rekapitulasi absensi siswa (mingguan, bulanan, semester dan tahunan)

– Mengoreksi absensi siswa (yang salah secara manual)

– Melihat hasil nilai siswa (per mata pelajaran)

b. Modul Guru sebagai Guru Mata Pelajaran

Module ini berfungsi untuk :

– Data Entry Nilai Ujian (praktek, tertulis) siswa

– Menganalisis hasil ujian siswa

– Membuat rekapitulasi nilai ujian siswa

4. Modul BP/ BK (Bidang Penyuluhan/Bimbingan dan Konseling)

Module ini berfungsi untuk mengolah data siswa yang perlu layanan khusus, seperti :

a. Jumlah alpa (tidak masuk tanpa berita) siswa yang melebihi batas minimum.

b. Jumlah siswa yang bermasalah

c. Data entry absensi siswa terlambat datang ke sekolah secara manual setelah siswa tersebut membuat laporan (alasan) secara rinci dan jelas.

d. Membuat surat undangan untuk orang tua siswa ke sekolah untuk melakukan konsultasi (mencari jalan keluar terbaik) tentang siswa yang sudah melakukan kesalahan. Misalnya siswa yang 3 hari berturut-turut tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak jelas

e. Data Entry peringatan untuk siswa

f. Data Entry siswa berprestasi

5. Modul Administrasi

Module ini berfungsi untuk melakukan kegiatan administrasi yang berhubungan

dengan kegiatan siswa, seperti :

a. Membuat Surat Panggilan untuk siswa dan orang tua siswa

b. Membuat Surat Pemberitahuan untuk siswa dan orang tua siswa

c. Dll

6. Modul Keuangan (Pembayaran UDB dan DSP)

Module ini berfungsi untuk melakukan transaksi pembayaran UDB siswa dengan

menggunakan teknologi Brocde System yang mengacu pada nomor induk siswa. Dan mengunakan teknologi ini adalah sbb :

a. Akses cepat, tepat dan akurat untuk mengetahui status terakhir pembayaran SPP siswa.

b. Mencetak slip pembayaran SPP siswa dengan cepat

c. Membuat rekapitulasi SPP siswa (harian, mingguan, bulanan, semester dan tahunan) secara otomatis.

d. Menghindari kesalahan dalam proses pembayaran UDB yang akan berakibat kerugian baik pihak sekolah maupun di pihak siswa.

7. Modul Kepegawaian

Modul ini berfungsi untuk memudahkan dalam pengelolaan seluruh data pegawai

sekolah, seperti :

a. Pencarian Pegawai, seleksi dan penempatan pegawai

b. Penyusunan Program Pelatihan

c. Perbaikan Kondisi Kerja

d. Perencanaan Pegawai

e. Perencanaan Organisasi

f. Penilain Prestasi, mutasi dan promosi

g. Penggolongan jabatan, administrasi penggajihan dan Insentif

9. Modul Manajemen Aset Sekolah

Modul ini berfungsi untuk memudahkan dalm pengolahan seluruh data asset sekolah, seperti :

a. Pencarian data Asset

b. Penyusunan data Asset

c. Module kategori Asset

d. Module status

e. Module Supplier/ Vendor

f. Nilai Asset (depresiasi)

10. Modul Raport / Laporan

Modul raport ini berfungsi untuk laporan. Modul laporan ini dibagi atas beberapa jenis laporan, antara lain :

a. Laporan untuk Orang Tua Siswa/ Wali Murid (LKS)

Laporan Kegiatan Siswa (LKS) untuk orang tua siswa diberikan/ dikirimkan kepada orang tua via kurir (POS) antara tanggal 1 s.d 5 setiap bulannya LKS berisi beberapa informasi tentang kegiatan siswa selama sebulan terakhir, seperti:

– Kehadiran Siswa (persentase kehadiran)

– Nilai-nilai Uji Kompetensi (baik praktek maupun tulisan)

– Status Pembayaran DSP dan UDB

– Catatan Wali kelas/ Guru Bidang Studi

Laporan kegiatan siswa yang dikirimkan ke orang tua siswa seperti Biling Kartu Kredit Bank via jasa kurir (POS) atau langsung (tergantung permintaan) setiap bulannya sehingga orang tua siswa atau wali murid dapat mengetahui kondisi sesungguhnya (real) tentang kegiatan siswa (anaknya) secara cepat. Tepat dan akurat sehingga apabila menemukan penyimpangan/ kesalahan dapat dilakukan koreksi / perbaikan dengan cepat dan tepat. Sehingga diharapkan dengan LKS ini orang tua dapat ikut berperan aktif untuk mengawasi, mengoreksi dan mengingkatkan mutu pendidikan anaknya.

b. Laporan Untuk Siswa

Laporan ini berisi beberapa informasi tentang kegiatan siswa dan informasi penting lainya yang harus diketahui oleh siswa, seperti :

– Status Kehadiran

– Nilai – nilai ulangan /Ujian

– Status Pembayaran SPP

– Jadwal kegiatan seperti extrakulikuler, praktek lab komputer, lab bahasa, kimia. Dan laporan ini dibuat dalam bentuk from laporan khusus siswa yang dapat di akses oleh siwa dengan sistem pengaman sbb :

Login : Nomor Induk Siswa

Password : ……… (rahasia dan min 6 karakter)

Sehingga informasi siswa hanya dapat di akses oleh siswa yang bersangkutan

(bersifat pribadi).

c. Laporan Untuk Guru

Laporan bulanan untuk guru ada 2 (dua) macam, yaitu :

– Laporan berbentuk digital (from dalam program SITS)

– Laporan tertulis (cetakan) dikirim dari tanggal 1 s.d 5 setiap bulannya

Kedua laporan tersebut berisi berapa laporan tentang :

Rekapitulasi absensi siswa selama 1 bulan terakhir (wali kelas)

– Rekapitulasi nilai ujian / ulangan siswa selama 1 bulan terkhir (guru mata pelajaran)

d. Laporan untuk Kepala Sekolah

Laporan bulanan untuk kepala sekolah mencakup beberapa hal, seperti :

– Laporan keuangan (pembayaran UDB dan DSP)

– Rekapitulasi Bulanan Absensi Guru

– Rekapitulasi Jumlah Siswa

– Persentase Kehadiran Siswa

– Hasil analisis data siswa

– dll (sesuai dengan kebutuhan)

Dengan pemodelan sistem informasi yang dilakukan oleh SMP Bina Insani dengan Sistem Informasi Terpadu Sekolah (SITS)nya dapat memberikan pelayanan terbaik kepada siswa dan orangtua sehingga baik siswa maupun orangtuanya dapat mengetahui informasi perkembangan (proses belajar mengajar) siswa secara cepat, tepat dan akurat. Karena semakin cepat informasi sampai kepada orangtua atau wali murid dan siswa, maka akan cepat pula perbaikan mutu (koreksi) pendidikan siswa tersebut. Pada umumnya Sistem Informasi Terpadu ini digunakan sebagai alat bantu pengambil keputusan dan oleh pihak lain yang tergabung dalam inter-organizational information system sehingga organisasi pendidikan dapat berinteraksi dengan pihak-pihak yang berkepentingan(stakeholder) secara cepat, tepat dan akurat. Manfaat lain yang dirasakan dengan adanya Sistem Informasi pada pelayanan pendidikan adalah sebagai berikut:

1. Tersedianya sistem pengelolaan data dan informasi pendidikan.

2. Terintegrasinya data dan informasi pendidikan untuk mendukung proses pengambilan keputusan.

Oleh karena itu Sistem Informasi Terpadu memiliki nilai penting sebagai berikut :

1. Sistem informasi yang dibangun melalui teknologi informasi yang memungkinkan pengolahan data secara lebih akurat dan andal

2. Pembuatan keputusan akan ditunjang dengan pilihan alternatif yang lebih objektif dengan data pendukung yang lengkap.

3. Sistem Informasi yang berbasis computer (computer-based information systems) memungkinkan pendelegasian kegiatan rutin.

4. Monitoring dan evaluasi memerlukan penyerapan informasi secara cepat dan efisien.

Walaupun manfaat-manfaat yang dirasakan tersebut masih harus ada penelitian lebih lanjut lagi. Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapat dijelaskan bahwa Sistem Informasi Terpadu yang diterapkan di SMP Bina Insani Bogor merupakan suatu inovasi yang sangat berguna dalam meningkatkan mutu layanan pendidikan.

  1. Aplikasi Model Pembelajaran Berbasis ICT dalam Inovasi di Kelas

Dalam dunia pendidikan di Indonesia, sudah saatnya kita memanfaatkan teknologi informasi. Teknologi informasi akan memberikan nilai tambah dalam proses pembelajaran. Hal ini, berkaitan dengan semakin tingginya kebutuhan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi informasi diharapkan tingkat daya pikir serta kreativitas guru dan siswa serta masyarakat dapat berkembang dengan pesat. Seorang guru akan dengan mudah mencari bahan-bahan ajar yang sesuai dengan bidangnya, seorang siswa dapat mendalami ilmu yang didapatkan dengan didukung kemampuan untuk mencari informasi tambahan diluar yang di ajarkan oleh guru. Proses belajar mengajar tidak melalui tatap muka saja melainkan dapat melalui Internet. Siswa dipacu untuk belajar tanpa harus dengan guru melainkan dapat mandiri melalui on line yang ada di internet. Pembelajaran berbasis teknologi (ICT) diterapkan di bidang pendidikan dalam bentuk sekolah maya dan penyelenggaraannya dapat dilakukan oleh berbagai pihak, baik sekolah atau situs-situs yang menyediakan internet sehingga mudah di akses dan memudahkan siapa saja untuk belajar. Sekarang ini Pembelajaran berbasis teknologi sudah masuk dalam kurikulum nasional yang disebut dengan mata pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komputer). Tapi sayangnya konteks pendidikan di Indonesia masih pada level “learning to use ICT”. Hal ini terbukti dengan di jadikannya ICT sebagai mata pelajaran dalam kurikulum nasional saat ini. Sebenarnya, ada empat level pemanfaatan ICT untuk pendidikan menurut UNESCO, yaitu:

Level 1: Emerging – baru menyadari pentingnya ICT untuk pendidikan;
Level 2: Applying – baru mempelajari ICT (learning to use ICT);
Level 3: Integrating – belajar melalui dan atau menggunakan ICT (using ICT to learn);
Level 4: Transforming – dimana ICT telah menjadi katalis efektifitas dan efisiensi pembelajaran serta reformasi pendidikan secara umum. Oleh karena itu metode pembelajaran diharapkan menuju using ICT to learn, dimana ICT sudah terintegrasi dalam proses pembelajaran.

Pada saat ini SMP Bina Insani sudah mulai menggunakan metode pembelajaran berbasis ICT dimana guru-guru sudah mulai menyusun materi pembelajarannya dalam bentuk presentasi (dari yang sederhana menggunakan paket program Power Point dari MS-Office) sehingga bisa lebih menarik dan tidak membosankan. Presentasi ini juga dapat dibuat interaktif sehingga dapat digunakan untuk belajar mandiri bagi siswa ketika gurunya tidak hadir. Interaktivitas dengan siswa juga dapat dimanfaatkan untuk administrasi pembelajaran, termasuk pengolahan nilai-nilai yang menggambarkan kemajuan studi siswa sehari-hari sampai ke penyelenggaraan quiz-quiz dan ujian-ujian selain itu pula pemanfaatan internet sebagai sumber pembelajaran dalam rangka mendapatkan materi ajar yang up to date juga dilakukan. Tapi bukan berarti bahwa pemanfaatan multimedia ini bertujuan untuk mengganti fungsi guru dalam mengajar, justru sebaliknya, dengan memanfaatkan multimedia maka guru akan berfungsi jauh lebih baik dan lebih efektif dalam mengajar. Yang sudah pasti, kesempatan belajar bagi siswa akan menjadi lebih luas, karena waktu dan energi yang biasanya digunakan untuk sekedar menyalin catatan dalam proses pembelajaran konvensional, misalnya, bisa dicurahkan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat. Tapi, tentu saja, terutama jika tidak tepat dalam mengimplementasikannya, penggunaan multimedia dapat menyebabkan mahasiswa cenderung “pasif”, melaksanakan proses pembelajaran.

Untuk mempersiapkan budaya belajar berbasis ICT adalah keterlibatan orang tua murid dan kultur masyarakat akan teknologi serta dukungan dari lingkungan merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan. Pembentukan komunitas ICT sangat mendukung untuk membudayakan anak didik dengan teknologi.

Dengan demikian langkah-langkah kongkrit yang harus dilalui oleh guru dalam pengembangan bahan pembelajaran adalah mengidentifikasi bahan pelajaran yang akan disajikan setiap pertemuan, menyusun kerangka materi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional dan pencapainnya sesuai dengan indikator-indikator yang telah ditetapkan. Bahan tersebut selanjutnya dibuat tampilan yang menarik mungkin dalam bentuk power point dengan didukung oleh gambar, video dan bahan animasi lainnya agar siswa lebih tertarik dengan materi yang akan dipelajari serta diberikan latihan-latihan sesuai dengan kaedah-kaedah evaluasi pembelajaran sekaligus sebagai bahan evaluasi kemajuan siswa. Bahan pengayaan (additional matter) hendaknya diberikan melalui link ke situs-situs sumber belajar yang ada di internet agar siswa mudah mendapatkannya.

Diharapkan kedepannya SMP Bina Insani sudah bisa menggunakan suatu inovasi pembelajaran terbaru yaitu Model pembelajaran berbasis ICT yang lain yang disebut dengan e-learning. Dimana secara sederhana e-learning dapat difahami sebagai suatu proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi berupa komputer yang dilengkapi dengan sarana telekomunikasi (internet, intranet, ekstranet) dan multimedia (grafis, audio, video) sebagai media utama dalam penyampaian materi dan interaksi antara pengajar (guru/dosen) dan pembelajar (siswa).

C. Kendala Dan Solusi

Kendala-kendala yang mempengaruhi keberhasilan usaha inovasi pendidikan menurut Subandiyah (1992:81) antara lain adalah (1) perkiraan yang tidak tepat terhadap inovasi (2). konflik dan motivasi yang kurang sehat (3). lemahnya berbagai faktor penunjang sehingga mengakibatkan tidak berkembangnya inovasi yang dihasilkan (4). keuangan (finacial) yang tidak terpenuhi (5). penolakan dari sekelompok tertentu atas hasil inovasi (6) kurang adanya hubungan sosial dan publikasi.

Kendala yang dihadapi dalam penerapan SITBI di SMP Bina Insani adalah adanya beberapa guru yang memiliki kemampuan di bidang komputer yang masih kurang, walau proses sosialisasi sudah dilakukan dan mereka menerima akan program tersebut tetapi masalah keterbatasan dalam penggunaan komputer juga perlu menjadi perhatian atasan atau inovator program ini karena dengan kemampuan yang kurang dalam pengoperasian komputer ini menyebabkan inovasi ini berjalan kurang lancar dan guru-guru tersebut menjadi setengah hati dalam menjalankan inovasi tersebut.

Solusi untuk kendala tersebut di atas adalah dengan memberikan pelatihan komputer ataupun pelatihan penggunaan media berbasis ICT kepada guru-guru yang memiliki kemampuan komputer terbatas atau masih kurang. Diharapkan dengan adanya pelatihan komputer tersebut semua guru dapat melaksanakan inovasi ini dengan baik dan lancar. Sehingga inovasi ini menjadi berkembang lebih baik dan manfaat inovasi tersebut dapat lebih dirasakan bagi semua pihak.


PENUTUP

Inovasi pendidikan sebagai usaha perubahan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri, tapi harus melibatkan semua unsur yang terkait di dalamnya, seperti inovator, penyelenggara inovasi seperti guru dan  siswa. Disamping itu, keberhasilan inovasi pendidikan tidak saja ditentukan oleh satu atau dua faktor saja, tapi juga oleh masyarakat serta kelengkapan fasilitas.

Inovasi pendidikan yang berupa top-down model tidak selamanya bisa berhasil dengan baik. Hal ini disebabkan oleh banyak hal antara lain adalah penolakan para pelaksana seperti guru yang tidak dilibatkan secara penuh baik dalam perencananaan maupun pelaksanaannya. Sementara itu inovasi yang lebih berupa bottom-up model dianggap sebagai suatu inovasi yang langgeng dan tidak mudah berhenti karena para pelaksana dan pencipta sama-sama terlibat mulai dari perencanaan sampai pada pelaksanaan. Oleh karena itu mereka masing-masing bertanggung jawab  terhadap keberhasilan suatu inovasi yang mereka ciptakan.

Inovasi yang dilakukan di SMP Bina Insani adalah inovasi dengan model bottom-up, dimana inovasi ini datang dari kebutuhan sekolah baik kurikulum dan guru-guru di sekolah tersebut. Inovasi yang dilakukan dapat berjalan dengan lancar karena dalam penerapannya memperhatikan faktor-faktor berikut yaitu guru, siswa, kurikulum dan fasilitas, serta program/tujuan dari inovasi tersebut.

Inovasi secara menyeluruh berupa penerapan Sistem Informasi Terpadu Bina Insani (SITBI) yaitu sistem yang didisain untuk kebutuhan administrasi pendidikan dan guru dalam upaya mendukung fungsi-fungsi dan aktivitas manajemen pada suatu organisasi pendidikan dan juga merupakan sebuah unsur kritis dalam membuat keputusan dan mengurus kapasitas organisasi pendidikan. Selain itu Sistem Informasi adalah sebuah kumpulan (perangkat) dari unsur-unsur yang saling terkait atau komponen-komponen yang mengumpulkan data dan informasi (input), memanipulasi dan menyimpan (proses) dan menyebarkan data target per item dan informasi (output).

Input yang diproses dalam Sistem Informasi Terpadu Bina Insani (SITBI) adalah data atau semua fakta yang terdiri dari beberapa jenis berdasarkan klasifikasinya. Data-data yang digunakan dalam Sistem Informasi Pendidikan meliputi data akuntansi, kepegawaian, akademik, kurikulum, proses KBM dan perpustakaan. Sedangkan informasi adalah rangkuman data yang telah mengalami proses pengolahan dan atau interpretasi yang disajikan dalam bentuk peta, laporan baik hard copy maupun soft copy. Dengan demikian Sistem Informasi Pendidikan akan memproses data dan mengubahnya menjadi informasi yang berbentuk laporan atau dokumen yang bermanfaat bagi berbagai pihak.

Manfaat Sistem Informasi Terpadu Bina Insani (SITBI) meliputi tersedianya sistem pengelolaan data dan informasi pendidikan, terintegrasinya data dan informasi pendidikan untuk mendukung proses pengambilan keputusan serta tersedianya data dan informasi pendidikan yang lengkap bagi seluruh stakholders yang berkepentingan dalam bidang pendidikan. Selain itu pula SITBI dapat memberikan pelayanan terbaik kepada siswa dan orangtua sehingga baik siswa maupun orangtuanya dapat mengetahui informasi perkembangan (proses belajar mengajar) siswa secara cepat, tepat dan akurat. Karena semakin cepat informasi sampai kepada orangtua atau wali murid dan siswa, maka akan cepat pula perbaikan mutu (koreksi) pendidikan siswa tersebut.

Sedangkan inovasi di kelas adalah penerapan proses pembelajaran berbasis ICT yaitu sebagai suatu proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi berupa komputer yang dilengkapi dengan sarana telekomunikasi (internet) dan multimedia (grafis, audio, video) sebagai media utama dalam penyampaian materi dan interaksi antara pengajar (guru) dan pembelajar (siswa). Model pembelajaran berbasis ICT ini bisa memberikan metode pembelajaran yang lebih menarik kepada siswa, mendorong siswa untuk belajar lebih optimal dan meningkatkan semangat belajar mereka serta mau terlibat dalam proses belajar mengajar sehingga pengajaran menjadi lebih efektif.

Dengan demikian Inovasi pendidikan berupa Sistem Informasi Terpadu dan Model Pembelajaran Berbasis ICT sangat berguna dalam meningkatkan mutu layanan pendidikan dan mutu pendidikan itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA

Betz M and Wilmore, D (2000). Information Technology and School: The Principals Rule. Paper Education Technology and Society. USA: Oklahoma State University

Cece Wijaya, Djaja Jajuri, A. Tabrani Rusyam (1991) Upaya Pembaharuan
dalam Bidang Pendidikan dan Pengajaran. Penerbit PT. Remaja
Rosdakarya- Bandung 1991.

Day, C.P. Whitaker, and D. Wren (1987) Appraisal and Professional
Development in the Primary Schools, Philadelphia : Open University Press.
Kennedy, C. (1987) Innovation for Change: teacher development and
innovation. ELT Journal 41/3

Gates, Bill (1999). Business@The Spead of Thought : Using A Digital Nervous System. New York: Warner

Hoy & Miskel. 2001. Educational Administration: Theory, Research and Practice. New York: McGraw-Hill

Jogiyanto (2001). Analisis dan Desain Sistem Informasi Pendekatan Terstruktur Teori dan Praktek Aplikasi Bisnis: Yogyakarta. Andalas

Kouraogo, P. (1987) Curriculum Renewal and INSET in Difficult
circumstance. ELT Journal 41/3

Kumar, N (2002). Management Information System: Anmol Publications PVT/LTD: New Delhi

Munir (2003). Sistem Informasi Manajemen. Diklat Kuliah Pasca Sarjana Bandung: UPI

Munro. R.G. (1977) Innovation Success or Failure?. Bristol: J.W.
Arrowss Smith Cambride English Dictionary

Nicholls, R. (1983) Managing Educational Innovation. London. George,
Allen and Unwin.

Razik & Swanson. Fundamental Concepts of Educational Leadership and Management. Ohio: Prentice Hall

Rosenberg, Marc Jeffrey (2001). E-Learning Strategies for Delivering Knowledge in the Digital Age: Amazon.com: New York

Subandijah (1992) Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. PT Raja Grafindo
Persada-Yogyakarta

Turban, E., Mc/ Lean, E., and Wetherbe, J (2002) Information Technology for Management. New York: John Wiley & Sons.

Visi Quantum (2008). Journal Ilmiah Sistem Informasi Pendidikan. Visi Quantum

Wahidin (2007). Journal Ilmiah “Manajemen Sistem Informasi Pendidikan. Jakarta



1 Komentar Add your own

  • 1. exs  |  Februari 9, 2009 pukul 4:36 am

    Nice Post to the first

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


%d blogger menyukai ini: